Hari itu mobil berisi-kan aku, Ayah, Ibu dan adiku berhenti di depan gedung mewah bertingkat lima di kawasan Sunyaragi, Cirebon. Gedung bercat coklat kemerahan yang dikelilingi rumput liar dan pepohonan itu bernama Ma'had Jami'ah Rusunawa alias Rumah Susun Sederhana Sewa (kalo gak salah yee...). Rusunawa ini didirikan untuk menampung mahasiswi-mahasiswi baru IAIN Syekh Nurjati Cirebon. Dan aku adalah salahsatu mahasiswi baru Institut tersebut. Jadi, akupun akan tinggal di salahsatu kamar di Ma'had yang baru didirikan satu tahun yang lalu itu.
Setelah menghela nafas panjang dalam rangka mempersiapkan mental, aku turun (dengan gemulainya), sementara Ayah, Ibu dan Adikku menurunkan barang-barangku (hehe... dasar anak gak tau diri).
"Kok sepi banget ya, Teh?" heran Ibu, sambil meletakkan ransel di sampingku. Aku baru tersadar, ia juga ya? staf-staf di lantai bawah juga gak ada yang punya batang idung... eh, maksudnya gak keliatan batang idungnya gitu... Padahal prosedurnya, sebelum mulai tinggal di Rusunawa ini, mahasiswi harus stor muka sambil memperlihatkan bukti pembayaran uang muka yang sudah diserahkan sebelumnya dengan muka yang manis kepada para pemuka Rusunawa, he.. Tapi sepertinya para pemuka (baca:staf pengurus) Rusunawa tersebut sudah pulang berhubung hari sudah gelap, bahkan mataharipun sudah bersembunyi dengan sempurna di balik ufuk barat. Mereka juga pasti sudah bersembunyi dengan sempurna di rumah mereka masing-masing.
"Jadi gimana nih, Yah, Bu?" tanyaku meminta solusi. Ayah memastikan bahwa di kantor lantai bawah memang tak ada siapa-siapa. Sementara Ibu terlihat berfikir keras. Dan adikku, dia malah asyik memainkan jambulnya yang menurutku amat jelek itu.
"Kita sudah jauh jauh kesini..." Ayah memulai pendapatnya "meningan langsung saja kamu tempatin kamarmu, tanpa izin" lanjut beliau "izin kan bisa besok-besok" tambahnya.
Akhirnya, tanpa diskusi panjang, akupun menyetujui pendapat Ayah. Kami segera membawa barang-barang menuju kamar yang sudah kupesan, di lantai dua. Syukurlah, kunci kamarnya tergantung dengan dramatisnya di pintunya. Barang-barangpun dimasukkan ke dalam.
"Wah, Teteh penghuni pertama!" seru adik. Memang tak ada siapapun di kamar ini kecuali kami dan empat kasur tanpa sprei, empat lemari kosong, plus dua meja belajar yang kesemua posisinya masih sama dengan saat pertama kali aku memesan kamar ini.
"Berarti malam ini teteh tidur sendiri dong... hiiy..." celetuknya, sambil sok takut. Kujitak kepalanya. Ia meng-aw ria.
"Udah, udah... ini calon mahasiswa sama anak es em a kayak anak kecil aja" Ibu menengahi.
Takut juga sih, tidur sendirian di gedung gede kayak gini... Mana sepi banget lagi... Apa belum ada satupun mahasiswi yang datang ya? Kamer laen kok masih pada gelap sih...
Kuhampiri jendela kamar, ada balkon kecil disana, dan dua utas tali rapia yang membentang terikat di pagar. Mungkin untuk menjemur pakaian. Aku menengok balkon kamar sebelah, benar, rapia itu dipakai menjemur pakaian. Gak indah banget deh...
...
Eits! Ada jemuran di balkon sebelah? Berarti... udah ada orang dong?
Bener aja. Kulihat sesosok siluet perempuan di sana...
(Bersambung...)